Protes Wacana Tugu Kuntilanak Berlanjut – GEMATOPAN SERUKAN PERLAWANAN

Sharing is caring!

Rencana Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat membangun Tugu Kuntilanak mendapat reaksi keras dari masyarakat Kota Pontianak. Salah satu protes tersebut di suarakan oleh masyarakat Kota Pontainak yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Tolak Patung Antu (GEMATOPAN).

Gerakan protes ini setelah Rapat Aksi yang difasilitasi oleh Komunitas Masyarakat Tahan Lapar (Komunitas Metal) Jumat sore, (20/1) di Kantin Gemilang, Jl. Sutan Syahrir Pontianak. Hadir dalam rapat aksi tersebut puluhan pemuda lintas generasi dari berbagai latar belakang baik dari kalangan aktivis sosial, aktivis kepemudaan, aktivis masjid, arsitek, jurnalis, blogger, akademisi, dan mahasiswa.

Rapat yang dipimpin Beni Sulastiyo ini didahului dengan sharing informasi terkait dengan rencana pembangunan Patung Kuntilanak yang akan dibangun Pemerintah Provinsi Kalbar. Roffi Faturrahman, Ketua IAI Kalimantan Barat yang turut memfasiltasi pertemuan tersebut menjelaskan bahwa sebuah desain bangunan memiliki dampak langsung terhadap psikologi masyarakat. Sebuah bangunan yang berbentuk menakutkan seperti patung kuntilanak pasti akan memberikan suasana yang menyeramkan bagi masyarakat dan hal itu sangat tidak baik bagi kondisi psikologi masyarakat.

Shabhan, salah seorang arsitek yang hadir dalam rapat aksi tersebut memberikan penekanan yang lebih keras lagi. Ia mengatakan ide pembangunan Patung itu adalah ide yang mengada-ngada. Maka ide tersebut harus ditolak dengan keras. Karena kalau tidak ditolak, bisa jadi Pemprov akan benar-benar membangunnya.

Pandangan Sabhan disetujui Budiman Very, salah seorang tokoh penggiat sosial Kalbar. Ia mengaku dirinya sudah mendengar ide pembangunan patung kuntilanak itu sekitar dua tahun yang lalu. “Berarti rencana itu bukan ide yang hanya iseng belaka. Akan tetapi akan benar-benar diwujudkan!”. Pendapat yang sama juga disampaikan Hilmy, seorang arsitektur. Ia menyampaikan hal senada bahwa memang benar ide pembangunan patung kuntilanak itu sudah ada sekitar dua tahun yang lalu.

Setelah melakukan sharing informasi, seluruh peserta sepakat untuk menolak dengan tegas tanpa kompromi rencana pembangunan Tugu Kuntilanak itu. Para peserta sepakat bahwa Tugu Kuntilanak itu akan memberikan dampak buruk bagi pengembangan pendidikan anak-anak, remaja dan generasi muda serta berdampak negatif bagi pengembangan peradaban masyarakat.

Seluruh peserta rapat juga memutuskan untuk melancarkan aksi protes dengan cara meminta Walikota Pontianak serta DPRD Kota Pontianak agar menolak secara resmi rencana pembangunan patung kuntilanak tersebut kepada Pemerintah Provinsi. Selain itu diputuskan untuk menggalang dukungan masyarakat melalui media massa, media sosial serta media lain untuk mengajak masyarakat Pontianak melakukan aksi protes terhadap rencana tersebut dengan cara yang santun, cerdas dan tanpa kekerasan.

Untuk mengorganisir aksi protes tersebut, perserta rapat juga sepakat membentuk komite aksi yang diberi nama Gerakan Masyarakat Anti Patong Antu (GEMATOPAN). Peserta Rapat secara aklamasi mendaulat Beni Sulastiyo dan Roffi Faturrahman sebagai koordinator GEMATOPAN.

Kepada awak media, Beni Sulastiyo atau yang akrab disapa Bungben ini mengatakan dirinya akan menggalang aksi protes terhadap rencana pemrof tersebut melalui GEMATOPAN hingga Pemerintah Provinsi membatalkan rencana tersebut.

Ia mengajak seluruh warga pontianak untuk menolak rencana tersebut dengan cara-cara yang tidak melawan hukum. “Kita harus tunjukan bahwa masyarakat Kota Pontianak adalah masyarakat yang kritis tapi santun, gagah berani tapi tak suka dengan kekerasan. Mari bersama-sama kita lindungi anak-anak kita dan generasi masa depan bangsa ini dari upaya-upaya jahat yang ingin menumpulkan kualitas intelektual dan spritual anak bangsa,” ajaknya bersemangat.

Views All Time
4483
Views Today
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *