Golkar Kehilangan Idealisme

Sharing is caring!

PONTIANAK – Hilangnya nama H. Adang Gunawan, SE dari komposisi dan personalia pengurus DPD Partai Golkar Kalbar, menimbulkan reaksi perlawanan. Adang yang semula menjadi sekretaris mendampingi H.Morkes Effendi, SH MH, membongkar skenario busuk DPP. Para sesepuh dan kader Golkar pun turut bersuara.

“Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar berkali-kali memanggil saya agar saya kompromi  dengan Norsan. Jika tidak bisa, saya memang sudah diancam akan dikeluarkan. DPP sudah memaksakan kehendak karena mereka menginginkan Golkar Kalbar dipegang oleh yang memiliki kekuasaan,” kata Adang Gunawan kepada Pontianak Times, kemarin (08/02/2017).

Adang blak-blakan mengatakan dirinya disuruh untuk mengalah dan mundur. Padahal Golkar sejak dulu tetap patuh pada mekanisme dan aturan partai, bukan main tangan besi. “Siapapun boleh memimpin Golkar asalkan sesuai mekanisme dan silakan dipertahankan.  Banyak kader yang bagus malah dimusuhi hanya karena kepentingan segelintir orang,” papar Adang.

Kisruh panjang untuk menggeser Adang memang sudah berlangsung lama. Dimulai ketika gagalnya Musyawarah Daerah (DPD) IX Partai Golkar Provinsi Kalbar, Kamis (16/09/2016).

Baca: Tangan Setan Kuasai Golkar Kalbar

Musda IX tak kunjung dilaksanakan, tetapi DPP main ambil saja dan pengurus lama pimpinan Morkes Effendi dengan sekretarisnya Adang Gunawan divakumkan, hanya lantaran DPP merestui keinginan Ria Norsan (RN) menjadi Ketua DPD Golkar Kalbar. Keinginan ini tidak terlepas dari ambisi RN yang hendak melaju menjadi calon Gubernur Kalbar pada perhelatan Pilgun 2018.

Baca: Adang Ditendang, Golkar Kalbar Terpuruk

Menurut Adang, dirinya selalu mengikuti pengkaderan dan mematuhi mekanisme yang ada. Tolong tunjukkan kesalahan saya hingga saya dikeluarkan dari susunan kepengurusan. Kalaupun ada kesalahan harus melalui surat peringatan 1 (SP1). Kemudian ditindaklanjuti dengan pemanggilan. “Golkar kan punya aturan. Sedangkan perusahan saja memiliki aturan. Jelas ini cacat hukum dan melanggar mekanisme. Apalagi Musda IX sudah memasuki paripurna pertama,” kata Adang.

Adang mempertanyakan apa dasar atau alasan hingga dirinya diganti dan tiba-tiba saja muncul Keputusan DPP Nomor KEP 198/DPP/Golkar/I/2017 yang mengganti KEP 168/DPP/Golkar /X/2016. “Semakin hari semakin aneh saja. Malah kader lama yang hanya bertanya saja dalam pleno, justru dikeluarkan dari kepengurusan versi DPP,” ujar Adang seraya menyebutkan kader-kader potensial yang dicopot seperti Wakil Sekretaris Teguh Imam Suyudi, Bendahara Setiawan Lim dan banyak lainnya yang diganti tanpa prosedur.

Kisruh Golkar Kalbar mendapat keprihatinan dari sesepuh dan kader Golkar Kalbar,  H. Gusti Syamsumin. Ia meminta agar Golkar tetap utuh dan tidak terpecah belah, saya minta AD/ART, Juklak, Juknis dan peraturan peraturan dijadikan pedoman untuk melaksanakan kehidupan berorganisasi secara demokratis. “Kedzaliman terhadap kader untuk kepentingan seseorang harus dilawan dengan petunjuk dan peraturan organisasi,” kata H. Gusti Syamsumin.

Hal senada dikemukakan sesepuh dan kader Golkar lainnya, H. Banien Basirun yang turut serta sebagai orang yang terlibat mendirikan dan membesarkan Golkar di Kalbar sejak era Orde Baru. “Saya sedih, sekarang ini Golkar terkoyak-koyak oleh perilaku DPP. Hal ini terjadi karena Golkar sudah kehilangan idealisme,” kata Banien.

Dijelaskan Banien, seorang pimpinan partai yang memiliki idealisme tentunya dalam melaksanakan tugas kepengurusan akan selalu berpegang pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta semua peraturan organisasi. Karena itu menjadi dasar hukum dalam menjalankan roda organisasi. Apalagi dengan cara memaksakan kadernya untuk mundur dari bursa calon Ketua DPD Golkar Kalbar. “Kepada saudara Adang, saudara jangan berkecil hati. Masyarakat tahu bahwa saudara Adang dikhianati oleh DPP Golkar,” tegas Banien.(*)

Views All Time
10349
Views Today
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *