Anak Muda Hanya Jadi Makelar Elit Politik

Sharing is caring!

Momen pemilihan walikota 2018 semakin dekat. Konstelasi politik semakin menggeliat. Di titik-titik strategis Pontianak sudah tersebar baliho, spanduk beberapa wajah kandidat. Sebelumnya kian banyak desas desus nama yang bermunculan ke permukaan. Sebagian sudah percaya diri untuk deklarasi. Tapi kebanyakan nama yang muncul mewakili generasi usang (sunset groups) yang bukan representasi wajah baru Pontianak. Wajah segar yang membawa arus baru anak-anak muda kreatif, kontributif dan religius (future groups)

Tulisan ini adalah kelanjutan dari opini yang pernah disampaikan oleh saudara Ireng Maulana, penggerak Fordeb (Forum Diskusi Era Baru) dengan judul Pilwako Pontianak, Pemimpin dan Gerakan Populis. Tulisan ini akan menegaskan kembali prospek gerakan populis yang akan melahirkan kepemimpinan baru dengan tradisi politik yang baru. Terbukanya ruang dialetika politik yang mempertemukan thesis sunset group berhadapan dengan antithesanya future groups, sebuah situasi ideal untuk sampai pada kondisi baru (sinthesa) bernama kepemimpinan baru dari gerakan populis dengan tradisi politik baru bernama masyarakat independen (baca tulisan Saudara Hermayani).

Momen pergantian kepemimpinan Kota Pontianak kelak saya pandang bukan sekadar peristiwa politik biasa berwujud peralihan kekuasaan (shifting of power) tapi juga merupakan peristiwa bersejarah yang mengindikasikan siklus peralihan generasi (shifting of generation). Tahun 2018 adalah momentum peralihan generasi yang dipicu oleh perubahan struktur demografi Pontianak. Penduduk berusia 40 tahun kebawah mencapai 60% dari total populasi dan angka tersebut menandai datangnya arus baru Pontianak dengan wajah anak-anak muda.

Arus baru tersebut tidak sekadar mendominasi jumlah populasi. Arus baru inilah yang menjadi peta penting untuk membaca Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Pontianak yang memiliki ciri berpendidikan tinggi, kesejahteraan membaik, dan terkoneksi dunia luar melalui internet. Mereka eksis di semua ranah strategis: lingkungan, budaya, kesehatan, pendidikan, kewirausahaan dan teknologi. Merekalah tulang punggung dari dinamika Kota Pontianak.

Keran demokrasi yang terbuka setelah melewati masa transisi yang menegangkan dari proses peralihan Orde Baru ke Reformasi memicu pertumbuhan partai politik. Pada saat yang sama terjadi penguatan pada basis masyarakat sipil. Peluang untuk berpartisipasi pada pemerintahan sepintas terkesan terbuka bagi semua kalangan akan tetapi seiring berjalannya waktu, dalam beberapa peristiwa politik yang dilakoni oleh partai justru memperlihatkan wajah oligarki yang mewakili tokoh-tokoh masa lalu.

Partai dikuasai segelintir orang tua yang memiliki modal dan perlahan menjelma sebagai kerajaan kecil yang kental aroma nepotisme kekeluargaan. Dengan kata lain fenomena politik dinasti terjadi berulang di tubuh parpol. Tak berhenti sampai disitu, parpol bergerak seperti mesin pengeruk uang dengan aksi-aksi poltik transaksional.

Terjadi banyak sekali perselingkuhan dalam praktik bernegara oleh pejabat yang diusung oleh Parpol. Parpol-parpol ini seperti korporasi yang “membisniskan” APBN & APBD. Di Parpol tidak berlaku prinsip kesetaraan yang menekankan moral dan gagasan melainkan pengaruh didapat berdasarkan kuasa uang. Sehingga meskipun banyak melibatkan generasi muda sebagai petugas partai tapi potensinya terkerdilkan hingga tidak menyadari peran besarnya karena dibonsai oleh intervensi elit dan orang-orang tua yang mengatur panggung perubahan. Akhirnya anak-anak muda ini seringkali hanya dijadikan makelar, martir dari sebuah agenda politik elit. Kiprah mereka harus terhenti dalam tataran akar rumput.  Inilah gaya berpolitik yang diwariskan oleh sunset groups.

Profil arus baru Pontianak yang saya sebut diatas merupakan mayoritas pemilih yang memerlukan jawaban baru dari partai politik. Ada banyak sekali hal-hal usang yang ditawarkan oleh partai politik. Jargon-jargon normatif yang membosankan dan klise. Pencitraan yang berlebihan dari wajah-wajah tua. Arus baru Pontianak memerlukan visi dan gagasan segar yang sejalan dengan semangat zaman untuk pembangunan kota!

 

Arus Baru Pontianak

Disadari atau tidak, proses demokratisasi yang terus berjalan juga diikuti oleh fenomena melonjaknya populasi muda. Pertumbuhan penduduk usia muda di kota Pontianak menampilkan struktur demografi baru yang menegaskan narasi bahwa wajah baru Pontianak adalah anak-anak muda.

Menurut BPS Kota Pontianak berdasarkan data sensus penduduk tahun 2014 atau sekitar 2 tahun yang lalu, total populasi Pontianak adalah sebanyak 598.097 penduduk. Dari data tersebut total populasi pemuda dengan usia 15-39 tahun adalah sebanyak 270.988 jiwa, mencapai setengah dari total populasi. Jika kita meniadakan penduduk non-pemilih berusia 0-14 tahun yang totalnya 157.437 jiwa maka menyisakan populasi orang tua yang berusia 40 tahun keatas hanya sebesar 169.672 jiwa. Kesimpulannya, wajah Pontianak adalah dominasi populasi anak-anak muda.

Populasi yang besar dari anak-anak muda tersebut adalah native democracy pemukim demokrasi murni, mereka generasi baru yang lahir tanpa merasakan dinamika pergolakan dan peralihan zaman Orba ke Reformasi. Mereka generasi yang merasakan demokrasi sejak dewasa. Mereka tidak punya referensi suasana politik dalam kungkungan rezim otoriter. Mereka menyaksikan situasi politik yang terbuka. Melihat pemilihan langsung, debat kandidat pemimpin, perseteruan antara tokoh dan pendukung di berbagai media, iklan kampanye yang kreatif dan seterusnya.

Iklim politik yang terbuka membuat mereka cenderung lebih jujur dan tidak terikat dosa politik di masa lalu. Merekalah yang menjadi arus utama, pemilih dengan pasar terbesar di Pilwako mendatang. Mereka tumbuh ketika pola komunikasi sudah sangat horizontal oleh hadirnya revolusi sosial media, situasi dimana suplai informasi tak selalu dari media arus utama ke khalayak tapi juga dari pemirsa ke pemirsa. Mereka terkoneksi dan menjadi “smartphone user” yang up to date, mereka adalah generasi yang tidak terikat identitas politik apapun.

Terobosan teknologi informasi dalam bentuk smartphone dan media sosial membuat arus baru ini tumbuh dalam suasana pertukaran gagasan yang lazim terjadi setiap harinya. Situasi ini  membuat mereka keluar dari kehidupan individual ke sosial, dari sangat eklusif menjadi inklusif. Keinginan untuk terus berinteraksi mengantar mereka untuk bertemu fisik lewat ritual populer bernama Kopdar (Kopi Darat). Dari sinilah mereka menginisiasi gerakan.

Mereka, arus baru anak-anak muda punya ciri khas yang dapat digambarkan pada satu kata: KONTRIBUSI. Fenomena ini bisa kita lihat dari menjamurnya komunitas-komunitas yang dihuni dan digerakkan oleh anak-anak muda. Komunitas ini menggarap semua isu yang menjadi celah permasalahan kota, dari lingkungan, kesehatan, pendidikan, kebudayaan, seni dan kewirausahaan. Merekalah arus baru yang butuh figur yang selaras dengan idealisme yang mereka emban, bukan ditunggangi untuk kepentingan politik pragmatis.

Oleh sebab itu, terbuka peluang bagi gerakan populis yang berasal dari masyarakat sipil, berjama’ah tanpa tendensi dan bersifat independen untuk menunaikan tugas ishlah atau perbaikan demi menghadirkan situasi demokrasi yang sehat.  Gerakan yang bisa mempertemukan tiga wajah generasi dari X, Y dan Z. Sebuah gerakan yang dirancang untuk memikirkan generasi setelahnya dengan memberikan tradisi politik baru dan alternatif pilihan kepada warga Pontianak.

Jangan sampai calon pemimpin yang tampil kelak hanya diisi oleh kandidat yang merupakan hasil dari negosiasi politik yang didominasi oleh wajah-wajah lama dan tidak mewakili ruh dari zaman yang sedang terjadi. Sebuah zaman yang menghendaki terciptanya demokrasi yang sehat dimana pertarungan gagasan, integritas dan moral lebih mengambil tempat ketimbang politik transaksional yang hanya mengandalkan kuasa uang.

Penulis: Abdul Qodir Jaelani SE (Penggemar Kopi & Anggota Fordeb – Forum Diskusi Era Baru)

 

Views All Time
977
Views Today
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *