Herma, Aktivis Pemegang Mandat Pilwako

Sharing is caring!

Muhammad Hermayani Putera, akrab dipanggil Herma atau Yayan, namanya kian santer disebut dalam bursa Bakal Calon Walikota Pontianak 2018-2023. Pria kelahiran 27 Juli 1971 ini adalah anak dari H. La Eka, pensiunan pegawai Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Barat. Ibunya, Hj. Utin Hayatunnisa (wafat Februari 2016) adalah seorang guru agama Islam. Herma menjalani jenjang pendidikan mulai dari SDN 17 Podomoro Pontianak (tamat 1984), SMPN 1 Pontianak (1987) dan SMAN 1 Pontianak (1990).

Herma kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Yogyakarta. Pada kurun waktu 1990-1993 ia sempat mengecap 5 semester di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), dan pada 1992 kuliah juga di Jurusan Hubungan Internasional, Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Herma menamatkan kuliah S-1 di UMY tahun 1997.

Sosok yang dikenal santun dan religius ini memiliki segudang aktivitas yang diperhitungkan di tingkat local, regional maupun nasional dan internasional. Masa mudanya di kampus, Herma cukup lama tinggal di Asrama Mahasiswa Kalbar Rahadi Osman 1 Jl Bintaran Tengah 10 (1990-1993) dan Asrama Rahadi Osman 3 di Jl Tentara Rakyat Mataram 15 (1995-1997). Tidak heran jika ia banyak aktif di organisasi Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat (KPMKB) Yogyakarta. Bersama pengurus KPMKB dari kota lain di Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Solo, Malang dan Surabaya, Herma ikut mengaktifkan kembali semangat kebersamaan dan kekeluargaan antar sesama mahasiswa dan pelajar asal Kalbar di Pulau Jawa.

Pada Musyawarah Besar KPMKB se-Jawa di Kaliurang, Yogyakarta 1993, ia terpilih sebagai Wakil Sekjen KPMKB Se-Jawa (1993-1996). Selain mengkonsolidasikan dan mengaktifkan beberapa kegiatan intelektual, seni-budaya dan sosial-keagamaan serta promosi potensi daerah dalam berbagai event bersama mahasiswa Kalbar baik di Jogja maupun di kota-kota besar lainnya, tak lupa Herma dan kawan-kawan menyampaikan pandangan dan sikap kritis mereka terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan di Kalimantan Barat. Hal ini disampaikan melalui media massa saat itu maupun disampaikan langsung ketika pejabat pemerintahan Kalimantan Barat berkunjung ke Asrama Mahasiswa, atau pada saat kesempatan pulang kampung yang biasanya dilakukan menjelang lebaran dan liburan kuliah.

Salah satu yang paling dikenang oleh Herma adalah saat ikut mengawal proses rehab Asrama Mahasiswa Jogja pada tahun 1991-1992 yang menurut pemantauan mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut terdapat beberapa ketidakbecusan, seperti penggunaan spek barang yang tidak sesuai bestek, pengurangan volume pekerjaan, dan kualifikasi tenaga kerja yang tidak memadai dalam mengerjakan rehab Asrama tersebut. Indikasi penyalahgunaan ini disampaikan langsung oleh Herma dkk yang tergabung dalam Tim Pengawas kepada Pemprov Kalbar saat itu, dan segera ditindaklanjuti dengan beberapa pembenahan dan perbaikan. Yang membuat Herma terharu dan sangat berkesan adalah ketika banyak warga asrama yang saweran membiayai kepulangan tim pengawas dengan Kapal KM Lawit.

Selain di internal mahasiswa Kalbar, Herma juga aktif dalam beberapa aktivitas kemahasiswaan di kampus, baik di Fakultas Geografi UGM maupun terutama ketika di Fisipol UMY. Di Geografi UGM, Herma menjadi Koordinator Mahasiswa Jurusan Geografi Manusia Angkatan 1990, sementara di UMY Herma pernah menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fisipol UMY 1994-1996. Pada era inilah Herma banyak bersentuhan dengan dunia gerakan mahasiswa.

Tradisi Keilmuan

Di luar kampus, bersama beberapa mahasiswa UMY ia juga aktif di Kelompok Studi Lingkaran, fokus pada kajian dan penerbitan. Pernah menjadi editor beberapa buku yang diterbitkan oleh Lingkaran, yakni buku “HMI dan Rekayasa Asas Tunggal” tulisan Hasanuddin M. Shaleh (1996) dan “Manajemen Perkotaan: Manajemen perkotaan: Aktor, Organisasi, dan Pengelolaan Daerah Perkotaan di Indonesia” tulisan Achmad Nurmandi (1999).

Tradisi membaca, menulis dan mengkaji ini dilanjutkan pada akhir masa kuliah di Jogja, dengan menjadi relawan pada Institut Antar Iman (Interfidei) pada 1995-1997. Dalam periode ini, ia banyak berinteraksi baik dengan rekan-rekan di gerakan mahasiswa, kelompok muda NU (khususnya di Lembaga Kajian Islam dan Sosial/LKiS), LSM lingkungan di Jogja seperti Walhi, maupun dengan beberapa nama besar intelektual, pemuka agama dan aktivis seperti Arief Budiman, Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Romo Mangunwijaya, Pendeta Th. Sumarthana, George Yunus Aditjondro, serta tentu saja cendekiawan muslim di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah yang sering diundang dalam kajian di Kelompok Studi Lingkaran seperti M. Amien Rais, Buya Syafie Maarif, dan tokoh pemberdayaan masyarakat Said Tuhuleley.

Interaksi yang intens ini kemudian menggerakkannya memilih jalan hidup sebagai seorang pekerja sosial-lingkungan. Setelah kembali dari Jogja, pada bulan April 1998 Herma dan beberapa rekan alumni KPMKB se-Jawa mendirikan Yayasan Madanika, sebuah LSM yang bergerak di bidang advokasi kebijakan dan pemberdayaan usaha kecil menengah, pendidikan lingkungan, dan mempromosikan dialog antar iman dan antar etnis di Kalbar. Pilihan ini diambil setelah melakukan refleksi terhadap apa yang terjadi di Kalbar pada saat itu, dan peran apa yang bisa diambil oleh Madanika.

Setelah meletakkan beberapa dasar pembentukan organisasi dan menginisiasi beberapa program yang dilakukan oleh Madanika, pada Desember 1999 Herma bergabung dengan WWF-Indonesia, organisasi konservasi terbesar di Indonesia. Mulai sebagai Koordinator Program untuk mengelola proyek Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) di Kapuas Hulu yang didanai oleh International Tropical Timber Organization (ITTO), bersama rekan-rekan di WWF-Indonesia baik di Program Kalbar maupun program nasional yang berkegiatan di Kalbar, Herma terus mengembangkan dan mengisiniasi beberapa program baru WWF-Indonesia.

Dengan bekal kerjasama dan komunikasi yang baik dengan berbagai lembaga donor yang mendanai banyak program WWF-Indonesia di Kalbar serta koordinasi dan yang kuat dengan berbagai pihak baik dari pemerintah di berbagai level, LSM, masyarakat setempat, pelaku dunia usaha, perguruan tinggi, jurnalis,  Herma dkk kemudian mengembangan program imbal jasa lingkungan seperti ekowisata berbasis masyarakat, pendampingan kelembagaan desa dan pengembangan sosial-ekonomi masyarakat sekitar TNBK, Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan kawasan hutan lainnya.

Selain itu, advokasi kebijakan tata ruang, skema restorasi kawasan kritis, pemgembangan hasil hutan bukan kayu seperti madu hutan, beras hitam, kerajinan masyarakat, konservasi Orangutan, dan membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) sebagai opsi pembangunan energi terbarukan dari sumber tenaga air juga terus dikembangkan dan diperkuat.

Pada tahun 2008, Herma mendapat kepercayaan dari WWF-Indonesia sebagai Manajer Provinsi Kalimantan Barat. Herma dan Tim Kalbarnya juga ikut mempromosikan praktek terbaik dalam pengembangan beberapa komoditas strategis seperti pengelolaan hutan produksi lestari (PHPL) di beberapa konsesi yang ada di Kalbar, dan pendampingan skema sawit lestari oleh petani swadaya. Dari yang semula fokus di Taman Nasional Betung Kerihun dan Kapuas Hulu, bersama rekan-rekannya di Kalbar ia berhasil mengembangkan program Kalbar sehingga menjadi salah satu program yang paling lengkap komposisi isu dan agenda konservasinya di lingkungan WWF-Indonesia.

Dengan kepemimpinan yang sudah teruji ini, Herma kemudian mendapat promosi sebagai Kalimantan Regional Leader sejak Februari 2014 hingga sekarang. Di tingkat global, Herma ikut dari awal menginisiasi upaya penyelamatan hutan di Kawasan Jantung Kalimantan (Heart of Borneo) sejak 2004. Sekarang banyak komitmen mendukung implementasi Program Heart of Borneo dari berbagai lembaga internasional, nasional dan lokal yang bekerja bersama pemerintah, pelaku bisnis, LSM, perguruan tinggi dan masyarakat setempat yang bekerja di Kapuas Hulu, Sintang dan Melawi.

Namun ia tidak puas hanya berfokus pada kawasan hulu dengan hamparan hutan tropis yang relatif masih terjaga dengan baik. Herma terus menebarkan energi sosialnya dengan mengajak banyak pihak untuk mulai menaruh kepedulian terhadap kawasan ekosistem mangrove di Kalbar, khususnya di Kabupaten Sambas, Kota Singkawang, Bengkayang, Mempawah, dan Kabupaten Kubu Raya.

Melihat sudah banyak prakarsa konkret oleh berbagai LSM dan kelompok masyarakat di beberapa kabupaten tersebut, Herma dkk sejak 2009 bersama rekan-rekan di WWF ikut memperkuat kelompok masyarakat lainnya, mulai merintis upaya penyelamatan hutan mangrove yang dikenal sebagai penyelamatan Perisai Hijau Kalimantan (Green Shield of Kalimantan).

Ketika ditanya mengenai banyaknya inisiatif ini, Herma mengungkapkan kunci kesuksesan dan keberlanjutan program-program tersebut: bangun tim kerja yang kuat dan solid, terus menjaga sikap saling percaya dengan sebanyak mungkin pihak terutama masyarakat. Selanjutnya, tetap rendah hati dan tidak pernah puas dengan beragam capaian yang ada, senantiasa menghadirkan energi sosial kreatif, penuh inovasi dan kreativitas program guna merespon berbagai tuntutan zaman dan ekspektasi banyak pihak yang semakin meningkat akan kehadiran WWF dan masyarakat sipil lainnya, berkontribusi konkret mengatasi berbagai tantangan dan persoalan yang ada.

Andil Menjaga Kalbar

Mengenai kehidupan pribadinya, Herma bersyukur diberikan Allah seorang istri yang sangat menerima dan mendukung pilihan hidupnya kini. Herma menikahi Reny Achmad Hidjazie, kawan sekolahnya di SMPN 1 Pontianak, pada 12 September 1999. Pasangan ini dikaruniai 3 orang anak, masing-masing Muhammad Fikri Miftahuddin (kelas 2 SMAN 4 Pontianak), Muhammad Akbar Zamzami (kelas 3 SMP Islam Al-Azhar 17 Pontianak), dan Aulia Rahma Madina (kelas 5 SD Islam Al-Azhar 21 Pontianak).

Seperti halnya Herma, Reny juga aktif bekerja di LSM, dan saat ini menjabat sebagai Direktor Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita (PPSW) Borneo yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan pendidikan anak usia dini. Pasangan ini memilih mengabdi di jalan sunyi sebagai aktivis sosial. Meski sudah ketat dengan jadwal yang padat merayap, Herma masih menaruh kepedulian atas sehatnya kehidupan sosial masyarakat Kalbar yang beragam dari sisi etnisitas dan keyakinan beragama.

Sejak kembali ke Pontianak pada 1998, Herma bersama jaringan masyarakat sipil, kampus, dan terutama pemuka agama, ikut aktif dalam berbagai upaya menjaga Kalbar agar tetap kondusif dan harmonis.  Pernah menjadi relawan selama 2 bulan di beberapa kamp pengungsian pasca konflik sosial Sambas 1999, Herma ikut aktif memfasilitasi serial dialog antar agama dan antar etnis di Kalbar, bekerjasama dengan Institut Dian Interfidei Yogyakarta. Terakhir, pada bulan Maret 2012 Herma aktif menggalang berbagai elemen masyarakat membentuk Forum Cinta Damai dalam merespons potensi ketegangan sosial yang terjadi pada saat itu.

Jalan hidup Herma memasuki babak baru, ketika beberapa kawannya meminta dan memberikan mandat kepadanya untuk bersedia maju dalam Pilwako Pontianak 2018 mendatang. Dengan doa dan dukungan keluarga dan sahabat terdekat serta segenap masyarakat Kota Pontianak, dan seandainya Allah memberikan kesempatan tersebut, Herma berharap semoga sekelumit pengalamannya tersebut di atas bisa menjadi bekal dalam memimpin dan mengelola Kota Pontianak ke depan. Semoga langkah baik ini diridhai oleh Allah Yang Maha Esa. (bersambung)

Views All Time
2176
Views Today
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *