Mandela, Olahraga dan Persipon Kita

Sharing is caring!

Dalam minggu ini ada dua peristiwa olahraga di Kalbar  yang menarik untuk disimak. Pertama, keberhasilan Tim Terjun Payung Fasida Kalbar yang mengukir prestasi sebagai juara umum pada Kejuaraan International Parachuting Championship Bulan Dirgantara Indonesia KASAU Cup 2017 di Pangkalan Udara Atang Sendjaja (Lanud ATS) Bogor, 11-18 April 2017.

Dalam kejuaraan ini, Tim Kalbar meraih 2 medali emas kategori mendarat perorangan putri yang dipersembahkan Ni Putu Irma, dan kategori Ketepatan Mendarat Perorangan Junior Putra oleh Teguh;  1 perak oleh Maria Melda untuk ketepatan mendarat perorangan putri; serta 1 perunggu direbut Tim Beregu Putri untuk kategori ketepatan mendarat beregu putri.

Berita ini tentu membanggakan dan membangkitkan semangat kita sebagai anak Kalbar. Putra-putri terbaik daerah ini mampu bersaing dan bahkan menjadi yang terbaik dalam olahraga yang sangat memicu adrenalin ini. Salut dan bangga atas prestasi yang sudah diraih seluruh atlet dan ofisial Tim Terjun Payung Kalbar tercinta.

Peristiwa kedua adalah keterlibatan Persipon dalam mengikuti Kompetisi Liga 2 Indonesia yang sudah mulai bergulir Minggu, 23 April 2017 kemarin. Walaupun akhirnya Persipon kalah 1-2 ketika menghadapi Sragen United dalam pertandingan di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak, tapi ada “kemenangan” lain yang ingin saya ceritakan pada bagian akhir tulisan ini.

Olahraga memang punya daya magis luar biasa. Ia bisa menyatukan, merekatkan yang jauh dalam satu ikatan, entah kita sebut apapun itu. Bisa kita labeli nasionalisme sebuah bangsa, bisa pula fanatisme terhadap klub, ataupun solidaritas pada daerah. Semua ini bisa kita maknakan kepada perjuangan seorang atlet atau beberapa atlet yang tergabung dalam satu tim olahraga.

Bagi Anda yang pernah menonton film Invictus bisa mendapatkan pelajaran berharga bagaimana lewat rugby seorang Nelson Mandela (diperankan oleh aktor gaek Morgan Freeman) yang baru saja dilantik sebagai Presiden Afrika Selatan mampu menyatukan bangsanya yang terbelah akibat politik pembedaaan warna kulit apartheid. Lewat kepemimpinan kapten tim rugby Francois Pienaar (nyaris tanpa cela diperankan oleh Matt Damon), kisah perjuangan tim rugby nasional Afrika Selatan menjadi juara dunia rugby tahun 1995 ini sungguh sangat menginspirasi.

Dari kisah film Invictus ini kita belajar bagaimana proses pembentukan tim olahraga seperti rugby bisa menjadi alat pemersatu bangsa dan daerah, penguat rasa bangga dan ada keinginan kuat untuk membela. Masih ingat pandangan lama tentang perjuangan seorang atlet? Hanya ada dua cara mengibarkan bendera kebangsaan kita di kancah internasional: pertama sebagai pemimpin bangsa atau daerah; dan kedua sebagai duta olahraga.

Apa yang dilakukan Mandela untuk membangun tim nasional rugby Afrika Selatan sangat sederhana namun sangat mendalam maknanya. Ia mengundang kapten tim rugby Francois Pienaar datang dalam jamuan minum teh. Pada pertemuan itu Madiba, sapaan akrab Mandela, mencoba membuka mata Francois agar mampu menjadi sumber inspirasi bagi seluruh anggota tim. Menurut Madiba, menginspirasi orang lain dan membuat orang lain, lebih baik dibanding anggapan mereka sendiri adalah sumber kekuatan untuk meningkatkan kualitas tim rugby Afrika Selatan. Ini merupakan salah satu momen paling menyentuh dalam film ini.

Momen menyentuh lainnya adalah ketika Pienaar menerima tropi kejuaraan dunia rugby 1995 langsung dari tangan Madiba Sang Legenda. Delapan belas tahun kemudian, moment of truth ini diungkapkan kembali oleh Pienaar saat Mandela wafat tahun 2013.  “Apa yang dikatakan Nelson Mandela kepada saya adalah, ‘Terima kasih banyak untuk apa yang telah kau berikan kepada Afrika Selatan’, tapi saya katakan ‘Terima kasih untuk apa yang telah anda lakukan untuk negeri ini’,” ujar Pienaar. “Saya merasa hampir memeluknya, tapi saya pikir itu tidaklah sopan,” terang Pienaar. “Lalu saya mengangkat trofi dengan perasaan yang tidak tergambarkan. Saya tidak dapat menggambarkan perasaan saya, karena saya menjalani pertandingan untuk keadilan dan kejayaan bangsa saya,” pungkas Pienaar.

Kepemimpinan Mandela yang menyentuh ini sangat dikenang oleh warga dunia. Tidak heran ketika Mandela wafat dalam usia 95 tahun pada tahun 2013 lalu (ia lahir tahun 2008), ucapan bela sungkawa tidak hanya datang dari para pemimpin politik, melainkan juga dari kalangan dunia olahraga. “Terima kasih Madiba untuk warisan dan contoh yang telah Anda berikan. Anda akan selalu bersama kami,” ujar Cristiano Ronaldo melalui akun Twitter miliknya. Sementara itu pembalap F-1 Lewis Hamilton menyampaikan duka citanya yang mendalam. “Salah satu momen spesial saya adalah ketika saya bertemu dengan Madiba,” tulis Hamilton di akun Facebook-nya.

“Mandela adalah salah satu manusia paling menginspirasi yang pernah hidup, dan tanpa ada keraguan dia adalah orang yang paling ramah yang pernah saya temui. Kami akan merindukanmu, Madiba. Semoga Tuhan memberkatimu, saya mencintaimu seperti seorang anak mencintai ayahnya. Beristirahatlah dengan tenang. Lewis dan keluarga,” lanjut Hamilton.

Ya, Mandela mengajarkan kita tentang makna sesungguhnya sportivitas dalam dunia olahraga tidak hanya lewat momen perjuangan tim rugby nasional Afrika Selatan melawan sisa politik apartheid yang masih membekas hingga kemenangan yang akan terus dikenang dalam kejuaraan dunia 1995 tersebut. Tapi Mandela juga mempraktekkannya dalam kehidupan politik. Simak pandangannya terhadap para lawan politik yang membuat ia ditahan selama 27 tahun (1963-1990).

Ia membuat ucapan Presiden AS John F. Kennedy yang terkenal: forgiven but not forgotten (dimaafkan tapi tidak untuk dilupakan) menjadi sesuatu yang nyata dalam sendi kehidupan sosial politik Afrika Selatan. Rekonsiliasi nasional yang diprakarsainya dan dilakukan dengan determinasi kuat tanpa ragu, adalah salah satu contoh resolusi konflik yang paling mengesankan dan menyalakan harapan bagi dunia. Mandela berhasil mewujudkan mimpi Marthin Luther King untuk dunia tanpa perbedaan ras, sekurang-kurangnya untuk Afrika Selatan.

Solidaritas Supporter

Olahraga memang menyatukan. Ini yang diceritakan oleh kedua anak lelaki saya dan tiga keponakan saya menonton pertandingan Persipon melawan Sragen United dalam pertandingan putaran pertama Grup 4 Liga Sepakbola Nasional atau Liga 2 Minggu, 23 April 2017, di Stadion Sultan Syarif Abdurahman (SSA), Pontianak. Bukan pasal Persipon yang kalah 1-2 yang mereka ceritakan setibanya di rumah, melainkan solidaritas yang ditunjukkan oleh para suporter Persipon yang dikomandani oleh Armoyo. Mendengar bahwa Persipon masih mengalami kekurangan dana dalam menjalani Liga 2, di sela jeda kedua babak, Armoyo mengajak para suporter menggalang dana guna membantu manajemen Persipon. Alhamdulillah terkumpul dana sekitar 12 juta.

Solidaritas yang ditunjukkan oleh para suporter Persipon ini layak dipertimbangkan oleh manajemen Persipon sebagai salah satu modal sosial berharga membantu mengatasi kendala yang dihadapi saat ini. Potensi lain yang sebenarnya juga bisa digerakkan adalah dukungan dari para klub anggota Persipon; pemerintah kota (seperti yang ditunjukkan oleh Wali Kota Sutarmidji ketika menyerahkan bantuan 250 juta dari pegawai di lingkungan Pemkot); dari kalangan swasta yang menjalankan bisnisnya di Pontianak serta yang tidak kalah penting adalah menggalang dana dari publik (public fund), misalnya lewat penyertaan saham dalam mengelola Persipon sebagai suatu unit bisnis yang modern dan profesional.

Beberapa klub yang sudah mapan di luar negeri dan sekarang sudah semakin menggejala pada beberapa klub papan atas di tanah air menunjukkan, asal dikembangkan business plan yang mantap dan transparan, kita bisa mengelola klub sepakbola menjadi lebih berprestasi. Jika sebuah klub kebanggaan kota seperti Persipon bisa terus berkembang, selain prestasi yang didapat, bisnis yang dikembangkan juga semakin menguntungkan semua pihak yang terlibat.

Pada gilirannya rasa memiliki dan dukungan yang kuat dari para suporter yang fanatik juga bisa diraih. Pada ujungnya, bukan hanya prestasi yang membuat Pontianak akan semakin terangkat dan terpromosikan, melainkan juga Persipon bisa menjadi ikon pengikat, perekat dan pemersatu solidaritas seluruh warga Pontianak saat ini. Pontianak yang fakta sosialnya terdiri dari berbagai etnis yang tinggal dan hidup di dalamnya. Mari bantu Persipon demi kejayaan Pontianak tercinta.

Penulis: Muhammad Hermayani Putera (Bakal Calon Walikota Pontianak)

 

 

Views All Time
726
Views Today
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *